TAKKAN KEMANA-MANA
Karya: Namira Medina
Tiga
tahun sudah aku menjalani hubungan dengan kekasih ku, Chairul. Kami selalu
bersama sejak SMA. Namun, sekarang aku harus menerima kenyataan bahwa kami
harus menjalani hubungan jarak jauh. Aku di sini, sedangkan dia di sana, yaitu
Lampung. Dia harus menjalani kuliah kedokteran di Lampung karena berbagai
alasan yang sudah dipikirkan oleh dia dan orang tuanya. Bayankan saja ketika
SMA dulu kami yang selalu bersama, kini terpisahkan oleh jarak. Awalnya memang
menyedihkan bagiku, lama kelamaan juga terbiasa. Sesekali dia memberikan kabar
lewat pesan singkat. Sampai aku pun
sudah terbiasa menunggu kabarnya. Setiap hari aku menatap ponsel berharap dia
memberiku kabar. Meskipun aku tahu, dia hanya bisa memberi kabar seminggu
sekali. Itupun jika ada waktu luang.
Satu semester telah berlalu. Tidak
terasa aku baru saja selesai menempuh ujian semester di prodi pendidikan Bahasa
Inggris, fakultas keguruan dan ilmu pendidikan di kota Makassar. “Tiit...
tuut... tiit... tuut....”, suara ponsel ku berbunyi. Ada pesan singkat dari
Chairul, “Say, hari ini aku sudah selesai menempuh ujian semester. Doakan
nilai ku bagus agar satu minggu lagi, aku bisa pulang ke Makassar. Jaga diri
baik-baik ya, nanti aku hubungi lagi jika sudah di perjalanan pulang menuju
bandara. Chairul sayang Yuri.”. Aku sangat gembira menerima kabar itu.
Rasanya tidak sabar menunggu satu minggu lagi. Tidak sasbar ingin bertemu
dengan Chairul, orang yang selama ini aku rindukan.
Sekian lama aku menunggu, namun tak
kunjung ada kabar. Setengah bulan sudah aku menunggu pesan singkat darinya,
menunggu kabar pulang darinya. Ini tidak sesuai dengan harapan ku, dia memberi
kabar, pulang, dan kami bisa berjumpa. Yang dahulunya senang, kini berubah
menjadi sedih. Hampir setiap hari aku meneteskan air mata.
Malam tiba, kerjaan ku hanya menatap
layar ponsel menunggu kabar darinya. Benar saja, yang ku tunggu kini ada.
Chairul mengabari ku melewati pesan singkat.
“Yuri,
sebenarnya aku sudah pulang ke Makassar sejak tiga hari yang lalu. Maaf aku
baru sekarang bisa memberi kabar. Nanti lusa, malam minggu kita ketemu. Aku jemput
kamu di rumah sepeti biasa, aku sangat rindu dengan kamu. Sampai jumpa malam minggu nanti, sayang.”
kata Chairul.
Tiba-tiba aku langsung senang,
akhirnya kami akan ketemu lusa. Aku sudah tidak sabar ingin melihat Chairul,
apakah ada yang berubah darinya selama di Lampung.
***
Sambil menunggu Chairul menjemputku, aku
berdandan di depan cermin agar terlihat cantik di hadapannya. Tidak lama
kemudian, Chairul datang dengan suara mobil jazz nya di depan rumah. Terasa
bahagia melihat senyumnya kini bersama ku. Kami berpamitan dengan orang tua ku
di rumah. Dan menuju ke sebuah restoran megah yang cukup jauh dari rumahku.
Tidak banyak yang berubah dari
Chairul, dia tetap seperti Chairul yang dulu ku kenal. Hanya saja, badannya
kini agak bertambah gemuk. Kami menijmati suasana berdua dengan penuh canda.
Namun, di ujung percakapan kami Chairul ingin memutuskan hubungannya dengan ku.
Hubungan yang selama ini kami jalani, selama lebih dari tiga tahun lamanya,
sungguh tiada artinya. Tentu saja aku menolak permintaannya meskipun dia sudah
memberikan banyak alasan. Terutama alasan tentang orang tua dan keluarga. Dia
diminta oleh orang tuanya untuk fokus kuliah di Lampung. Sungguh aku tidak
ingin hubungan kami berakhir. Aku sangat mencintainya, aku rela ditinggal
kuliah di Lampung dari pada harus kehilangannya. Aku meminta waktu kepada
Chairul, “Tolong pikirkan lagi keputusan kamu itu.” kata ku sambil menangis. Aku memintanya memikirkan hal
itu dahulu, sampai nanti bulan depan ketika hubungan kami tepat berusia empat
tahun.
Selama
ini aku menangis, aku gelisah, takut kalau Chairul benar-benar sudah yakin atas
keputusannya itu. Aku hanya bisa menunggu waktu. Ini lebih parah dari yang aku
duga. Mengapa ini semua harus terjadi.
***
Satu
bulan aku meyakinkan diri, untuk menerima kenyataan bahwa besok malam tepat
empat tahun usia hubungan kami. Aku harus siap dengan apapun keputusan Chairul
nanti.
Suara
mesin mobil terdengar di depan rumah ku. Aku menarik nafas dalam-dalam
seolah-olah menerima kenyataan nanti. Kami berpamitan dengan orang tua ku.
Mereka menatap kami dengan penuh harap, karena mereka sudah tahu apa yang kami
alami saat ini. Kami pun meluncur dengan mobil menuju restoran yang kemarin
kami datangi.
Tiba
di depan restoran, kami parkir dan langsung menuju ke dalam. Kami memesan
makanan dan berbicara selayaknya seperti tidak pernah terjadi apa-apa di sini. Setelah
selesai makan, tiba lah saatnya. Chairul memulai percakapan itu terlebih
dahulu.
“Aku
sudah memikirkan hal ini secara matang. Aku ingin hubungan kita sampai di sini.
Kita bisa tetap menjadi teman bahkan sahabat baik. Mungkin ini memang sangat
sulit untukku bshkan untuk kamu. Aku sangat menyayangi kamu. Namun percayalah,
sejauh apapun kita nanti, jika memang kita ditakdirkan tuhan untuk bersama
lagi, cinta tidak akan kemana-mana.” Katanya dengan lirih.
“Sejujurnya
aku cukup kecewa dengan keputusan ini. Namun, aku sudah bisa menerima
kenyataan. Aku juga sangat menyayangi kamu. Kini aku setuju, sejauh apapun kita
nanti, jika memang kita berjodoh maka akan ada cara untuk didekatkan.
Sebaliknya, sedekat apapun kita, jika bukan jodoh maka akan ada cara untuk
dijauhkan.” Sahut ku.
TAMAT